Plus Minus Badan Usaha Perorangan

Kelebihan Badan Usaha Perorangan

Badan Usaha Perorangan memiliki plus (kelebihan) dan minus (kekurangan). Menurut Solehudin Murpi ST dan Dea Tantyo Iskandar dalam bukunya “Manajemen Bisnis untuk Orang Awam (2011:38-39), kelebihan badan usaha perorangan adalah:
1. Mudah dalam pengambilan keputusan
2. Semua keuntungan menjadi milik pribadi pengusaha
3. Mudah dibentuk dan tidak memerlukan proses perizinan yang rumit

Mudah dalam pengambilan keputusan, karena personel yang terlibat langsung dalam jalannya usaha tidak terlalu besar (umumnya hanya seorang), sehingga pengusaha memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan. Hal ini sangat menguntungkan terlebih jika keputusan harus diambil secepat-cepatnya. Selain itu, juga dapat ditekan kemungkinan terjadinya intervensi dari pihak lain terkait pengambilan keputusan.

Semua keuntungan menjadi milik pribadi pengusaha, karena badan usaha perorangan umumnya dibentuk dan didirikan oleh seorang wirausahawan saja, sehingga setiap keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha umumnya hanya dinikmati oleh pemilik usaha tersebut. Tidak ada mekanisme yang mengharuskan wirausahawan itu membagi keuntungannya.

Mudah dibentuk dan tidak memerlukan proses perizinan yang rumit, karena untuk membentuk sebuah usaha perorangan, disamping tidak diperlukan persyaratan permodalan dalam jumlah tertentu, juga tidak diperlukan perizinan khusus untuk mendirikan usaha tersebut. Dengan modal yang dirasa cukup, seseorang dapat dengan mudah membuat usaha dan mengembangkannya, meskipun pada prakteknya, umumnya tetap saja diperlukan Surat Izin Usaha (SIU) dan Surat Izin Tempat Usaha (SITU).

Kekurangan Badan Usaha Perorangan

Selanjutnya Solehudin Murpi ST dan Dea Tantyo Iskandar dalam bukunya “Manajemen Bisnis untuk Orang Awam (2011:39-41) menulis, kekurangan badan usaha perorangan adalah:
1. Resiko ditanggung sendiri oleh pemilik
2. Tanggung jawab tidak terbatas
3. Permodalan yang terbatas
4. Kelangsungan usaha tergantung hanya pada pemilik saja

Ketika usaha yang dijalankan mengalami masalah, seorang wirausahawan yang bertindak sebagai pemilik sekaligus pengelola akan berjuang sendirian untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ketika masalah semakin membesar, maka resiko yang ditimbulkannya pun ikut kian membesar. Dan beban resiko tersebut harus ditanggung sendiri oleh pemilik usaha yang bersangkutan.

Tanggung jawab tidak terbatas, karena resiko kebangkrutan pasti ada dalam setiap usaha, dan ketika usaha yang dijalani benar-benar bangkrut, resiko pertanggungjawaban utang menjadi sepenuhnya ditanggung oleh pemilik usaha tersebut. Ketika terdapat utang-utang yang menumpuk, pengusaha tersebut harus menanggungnya meskipun untuk itu dia harus membayar dengan aset-aset pribadi yang dimilikinya.

Salah satu masalah dalam kegiatan usaha adalah terbatasnya modal (lack of capital). Sebenarnya, hal ini bisa ditanggulangi dengan melakukan peminjaman kepada lembaga-lembaga keuangan atau kredit. Dengan mekanisme peminjaman yang lebih mudah, modal bisa didapat. Namun biasanya, lembaga keuangan tersebut akan melihat track and record jalannya usaha sebagai salah satu pertimbangan pengambilan keputusan pemberian pinjaman/kredit.

Dan karena usaha yang dijalankan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik, maka setiap tindakan pemilik akan berakibat langsung terhadap keberlangsungan usahanya. Ketika pemilik tersebut tidak memiliki tekad yang kuat, keberlangsungan usaha pun akan ikut terancam. Ketika tekad yang dimilikinya membaja, usaha akan maju.*

Pos ini dipublikasikan di bentuk usaha dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s