Ruang Pergaulan

“JIKA kamu ingin kaya, jangan terlalu banyak mendengarkan omongan orang miskin!”. Kalimat yang terkesan ekstrem itu meluncur begitu saja dari bibir seorang Tau ge (baca: Dau ke, dialek mandarin/hokkien: orang kaya raya) yang berkunjung ke proyek saya beberapa hari lalu. Kedua alis saya hampir menyatu saat mendengarnya.

Sebagai penganut filosofi tidak membeda-bedakan teman atas dasar kekuatan finansial, saya mengalami kesulitan mencerna ucapan itu.

 

Pembakar Semangat untuk Pencapaian Tujuan

Dalam keadaan yang demikian, bayangan sosok Madid Musyawaroh, orang yang terlanjur kaya dalam sinetron “Islam KTP” tiba-tiba menyelinap dalam benak saya.

Sang Tau ge ternyata telah menduga jika saya pasti tidak dapat langsung menerima wejangan dengan kalimat keras itu. Ia lantas menjelaskan panjang lebar apa yang dimaksudkan. Menurutnya, dalam perspektif pencapaian tujuan hidup kaya (bukankah semua orang ingin kaya?) maka harus menaruh perhatian dalam memilih ruang pergaulan.

Tentu tidak dalam arti menolak prinsip persamaan derajat antarmanusia. Namun, lebih dimaksudkan sebagai media mencari pengetahuan. Beliau berpesan agar saya serius menyisihkan waktu untuk bergaul dengan orang-orang sukses/kaya jika memang saya ingin sukses.

Mengapa demikian? Karena ada perbedaan mendasar materi pembicaraan antara orang kaya dan orang miskin. Kebanyakan orang sukses (khususnya pengusaha) pasti suka membahas peluang-peluang baru untuk mencetak uang. Sebaliknya, orang yang terlilit kesulitan finansial (miskin) memiliki kecenderungan tidak senang membicarakan uang, bisnis atau investasi. Kalimat seperti “uang tidak dibawa mati, uang bukan segalanya,” pasti sering terlepas dari bibir mereka.

Dalam konteks mencari pengetahuan untuk tujuan hidup berkecukupan, mengkhususkan sebagian waktu untuk bergaul dengan kalangan orang berduit dapat disebut sebagai langkah strategis. Cara mereka berfikir, menganalisa sesuatu, melihat peluang, mencari solusi masalah, dan hal positif lainnya dapat kita rekam dari obrolan mereka.

“Jangan datang ke orang kaya karena dua tujuan: mencari utang atau mengemis pekerjaan,” tegas sang Tau ge.

Datang dan bergaul dengan orang berduit adalah untuk belajar bagaimana cara mereka memperoleh keberhasilannya. Bukan merepotkan dengan hal-hal yang mereka benci.

Setelah mendapat kuliah gratis itu, saya mengambil kesimpulan pentingnya memilah-milah ruang pergaulan sebagai media belajar. Hal ini tidak hanya berlaku dalam konteks kesuksesan materi, tetapi berlaku universal. Jika ingin menyerap pengetahuan agama tentu harus banyak bergaul dengan ahli agama. Ingin kaya, maka harus bergaul dengan orang kaya.

Sebenarnya, kesimpulan tersebut amat sederhana dan hampir semua orang mengetahuinya. Namun, tidak banyak yang serius menjalankan prinsip itu. Kebanyakan orang hanya membiarkan pergaulannya mengalir tanpa target. Para pegawai lebih banyak bergaul dengan sesama orang kantoran, pedagang kecil dengan pedagang kecil, miskin dengan miskin, dan seterusnya. Jarang tumbuh misi khusus bergaul dengan kalangan tertentu untuk memperoleh pengetahuan/wawasan baru.

Saya pun mengalami hal itu. Ruang pergaulan kurang berkembang, teman dan relasi saya hanya itu-itu saja. Jika saya bergaul dengan teman yang secara wawasan dan materi lebih rendah, maka terkadang saya merasa lebih pintar dan lebih mapan. Yang terjadi kemudian adalah mulut saya menjadi lebih aktif daripada telinga, karena saya lebih banyak bicara (memberi nasihat, saran, kritik, dan lain-lain).

Keadaan yang demikian jika tidak hati-hati menyikapi bisa menjadi semacam penyakit. Saya bisa terjerumus dalam kondisi besar kepala dan kurang jeli melihat kelemahan diri.

Keadaan menjadi berbeda ketika bergaul dengan para pengusaha yang levelnya jauh di atas saya. Fungsi telinga lebih dominan daripada mulut, karena saya lebih banyak jadi pendengar. Alhasil, banyak pengetahuan berharga serta gagasan baru yang saya peroleh. Dalam perspektif belajar, saya akhirnya paham, mengapa Tuhan memberi kita satu mulut, dua telinga, dan dua mata.

Hal itu saya maknai bahwa kita harus lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara. Melihat dan mendengar orang-orang yang telah terbukti sukses.

Lantas, salahkah lebih banyak bergaul dengan orang miskin? Tidak. Terlebih dalam koridor humanisme, justru harus memperhatikan mereka yang kurang beruntung itu. Dalam konteks pembakar semangat untuk pencapaian tujuan pun tetap ada manfaat yang diperoleh karena dalam tiap pergaulan akan memunculkan rasa “ingin” dan “tidak ingin”.

Kombinasi dari ingin dan tidak ingin itulah yang melahirkan tujuan. Bergaul dengan orang kaya akan menyuburkan keinginan sukses/kaya. Bergaul dengan orang miskin akan menumbuhkan kesadaran tidak ingin seperti mereka. Namun, seyogianya kita juga serius meluangkan waktu untuk masuk dalam pergaulan orang-orang sukses, karena terbuka peluang bisa menyerap pengetahuan berharga untuk bekal kita meniru sukses mereka. Bila ilmunya telah diperoleh, selanjutnya terserah kita.

*Penulis adalah Pengusaha property & penulis novel.

Sumber: Radar Bojonegoro, Minggu, 4 Maret 2012, halaman 29 & 39.

Pos ini dipublikasikan di sukses bisnis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s