Jurus Menunda Kesenangan

SuwandonoJIKA membahas business success stories di negeri ini, maka tentu ingatan kita akan tergiring pada komunitas Tionghoa. Hampir di semua bidang dan tingkatan, pencapaian sukses mereka tak terbantahkan lagi.

Fakta tersebut patut jadi renungan kita semua karena pencapaian itu tentu ada sebab musababnya. Tidak jatuh begitu saja dari langit. “Sebenarnya, apa sih hebatnya orang-orang Tionghoa?”

Untuk menjawab pertanyaan macam itu, seluruh halaman koran ini pun takkan cukup untuk menjabarkannya.

 

Anggaran Kesenangan Tak Lebih 10 Persen dari Total Aset

Namun, saya akan mengupas satu jurus ampuh yang biasa digunakan komunitas Tionghoa. Yakni, jurus menunda kesenangan.

Kalimat “menunda kesenangan” memang amat mudah diucapkan. Namun, tidak terlalu mudah penerapannya. Godaan segera menikmati kesenangan adalah hal manusiawi. Siapa sih yang tidak ingin senang?

Namun, apalah artinya kesenangan jika harus ditebus kepahitan dalam jangka panjang. Atau, setidaknya harus mengorbankan kemungkinan pertumbuhan yang lebih baik. Mayoritas orang Tionghoa amat memegang teguh pemahaman itu. Terutama yang generasi “tua”.

Hal itu tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka mengarungi samudera luas untuk merantau ke segala penjuru dunia dengan tekad memperbaiki taraf hidup. Dengan segala keterbatasan, mereka tertatih-tatih mengayun langkah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Jurus menunda kesenangan menjadi andalan mereka.

Loh, bukankah justru komunitas Tionghoa banyak yang gaya hidupnya mewah?” Bisa jadi pendapat itu benar. Namun, orang-orang yang bergaya hidup seperti itu kebanyakan sudah berada pada titik aman (passive income lebih besar dari biaya hidup). Sehingga, merasa layak untuk menikmati hidup. Tentu tidak semua orang Tionghoa bisa menerapkan jurus ini. Tak sedikit pula yang salah dalam menghitung momentum yang tepat untuk mereguk kesenangan.

Dalam banyak kasus, rasionalitas kita sering terdesak oleh pertimbangan emosional. Lebih-lebih jika dipengaruhi kebutuhan pengakuan/pujian dari orang lain. Ingin tampak mapan, padahal masih belum mapan. Ketika penghasilan bertambah besar, keinginan memiliki barang mewah (konsumtif) juga turut membesar.

Bahkan, tak ragu mengambil kredit. Tidak terlintas ide untuk mengembangbiakkan penghasilannya terlebih dahulu, lantas membeli barang konsumtif dari hasil ternak uangnya.

Banyak pelaku bisnis juga tidak mampu menerapkan jurus itu (kadang termasuk saya). Ketika bisnis mulai lancar, nafsu segera menikmati kesenangan sering tak tertahankan. Akibatnya, pertumbuhan bisnis tersendat karena profit yang seharusnya menambah modal dilarikan ke arah konsumtif.

Saya pernah dinasehati seorang Lao Pan (kaya raya): langkah paling aman untuk menikmati kesenangan adalah dengan anggaran tak lebih dari 10 persen dari total aset/uang yang dimiliki. Dengan pola itu maka akan aman dan tidak perlu menanggung opportunity loss karena 90 persen asetnya masih dapat digunakan untuk hal produktif.

Fakta yang sering terjadi adalah sebaliknya. Banyak orang yang memiliki tabungan Rp. 30 juta justru membeli mobil seharga Rp. 150 juta. Kredit menjadi solusi paling mudah. Prinsip “nikmati sekarang, cicil belakangan,” amat mendominasi pola fikir orang-orang yang menempuh langkah ini.

Mereka tidak sadar bila telah menggadaikan masa depannya untuk kesenangan masa kini. Membeli kesenangan dengan skema kredit bukan keputusan salah jika beban angsurannya tidak memberatkan keuangan keluarga dan tidak menghambat upaya investasi/ternak uang.

Meski bukan monopoli orang Tionghoa, jurus menunda kesenangan amat mengakar dan diwariskan turun temurun di komunitas mereka. Bahkan ada yang sampai kebablasan dalam penerapannya. Saya pernah mendengar kisah nyata seorang Tionghoa kaya raya di kota Malang. Ia membangun bisnisnya dari nol hingga konon memiliki deposito di atas satu triliun rupiah.

Ketika ia sakit parah hingga kesadarannya melemah, anak-anaknya menginginkan perawatan terbaik dengan mengirimnya ke Mount Elizabeth Hospital Singapura. Ketika kondisinya membaik, ia marah besar saat tahu jika dirawat di Singapura. Apa yang membuatnya marah? Karena biaya rumah sakit yang mahal.

Saya dan anda tentu tidak sependapat dengan pemikiran orang tua kaya raya tersebut karena telah terjebak dalam keadaan “mendewakan uang.” Sehingga, amat pelit untuk menggunakan uangnya. Meskipun kaya, orang semacam itu sama saja dengan orang miskin karena tidak pernah menikmati kekayaannya.

Lantas, bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam situasi “menggadaikan masa depan” dan tidak pula terjerat dalam “mendewakan kekayaan”? Dari referensi yang pernah saya pelajari, ada yang disebut dengan “alokasi kesenangan”. Terjemahan sederhananya adalah kita harus bisa menunda kesenangan dan disiplin mengalokasikan kekayaan untuk investasi. Sebagian hasil dari investasi itulah yang digunakan untuk menikmati kesenangan.(*)

Penulis adalah Pengusaha property dan penulis novel.

Sumber: Radar Bojonegoro, Minggu 18 Maret 2012, halaman 29 & 39.

Pos ini dipublikasikan di sukses bisnis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s