Per 1 Juli, BI Wajibkan Transaksi Pakai Rupiah

182538_482173_uang_rupiah_jpnnJAKARTA – Bank Indonesia (BI) mewajibkan semua transaksi yang dilakukan di Indonesia per 1 Juli nanti harus menggunakan mata uang rupiah.

Ketentuan tersebut merupakan bagian dari upaya BI menghindari spekulasi nilai tukar dan menjaga stabilitas dan kedaulatan nilai tukar rupiah di dalam negeri.
“Sebagai simbol kedaulatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kami ingin uang rupiah digunakan dalam transaksi tunai maupun nontunai di seluruh wilayah Indonesia,” kata Deputi Direktur Departemen Hukum BI Bambang Sukardi Putra dalam workshop BI dengan wartawan akhir pekan lalu.

Sebagaimana diberitakan, BI telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI.
Dengan PBI itu, maka semua transaksi di dalam negeri wajib menggunakan mata uang rupiah.

Dalam PBI tersebut, diatur kewajiban penggunaan mata uang rupiah di wilayah NKRI, kewajiban pencantuman harga (kuotasi) barang dan/atau jasa hanya dalam rupiah, larangan menolak rupiah, serta beberapa pengecualian transaksi nontunai dengan rupiah.

Beberapa pengecualian dalam PBI, antara lain, penggunaan rupiah berlaku untuk transaksi untuk APBN, hibah internasional simpanan di bank dalam valuta asing, perdagangan internasional, dan pembiayaan internasional.
Peraturan tersebut berlaku mulai 1 April 2015, namun ada penyesuaian masa transisi untuk transaksi nontunai hingga 30 Juni untuk menyelesaikan perjanjian dalam valuta asing.

Menurut Bambang, penerbitan PBI yang mengatur penggunaan mata uang rupiah dalam setiap transaksi di dalam negeri dilakukan untuk menguatkan aturan penggunaan uang rupiah yang telah dibuat pada 2011.
“Penggunaan rupiah akan meningkatkan kepercayaan masyarakat,” katanya. (mna/awa/jay)

Sumber : JPNN.com
http://onlineindo.tv/news/per-1-juli-bi-wajibkan-transaksi-pakai-rupiah/

150605043dokshrupiahPelemahan Kurs Rupiah Membahayakan

JAKARTA – Kurs rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan data BI pada Jumat (5/6) pagi ini menempatkan kurs tengah pada Rp 13.243 per dolar AS, naik dari Rp 13.196 per dolar AS pada Selasa (2/6).
Pelemahan kurs rupiah sangat berbahaya bagi perekonomian nasional. Pemerintah harus serius membenahi berbagai sektor yang mengalami hambatan untuk mempercepat kinerja ekonomi.

Hal itu ditegaskan Sekjen Asosiasi Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Toto Dirgantoro, dan ekonom Bank Himpunan Saudara, Rully Nova yang dihubungi terpisah, Jumat.
Toto menegaskan pemerintah terlalu santai menghadapi pelemahan rupiah. Tidak terlihat secara nyata upaya untuk memperkuat fundamental ekonomi. Data-data ekonomi Indonesia bahkan cenderung tidak menggembirakan, pertumbuhan ekonomi menurun, inflasi tinggi, dan kinerja industri juga anjlok.

Terlebih lagi, situasi perekonomian global memang cukup berat. Sejumlah negara menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS.
“Negara ini digempur situasi perekonomian global yang kurang baik, tetapi pertahanan di dalam negeri juga lemah. Ini membuat rupiah terus terpuruk,” ucap Toto.

Ia menilai, respons pemerintah yang menganggap pelemahan rupiah akan memperkuat daya saing ekspor sebagai reaksi yang salah. Ia menegaskan, nilai ekspor tidak serta-merta menguntungkan, sebab kecederungan pembeli mencari diskon dan membeli dengan memperhitungkan nilai rupiah terhadap dolar AS.
“Sekarang buyer mendatangi sentra-sentra produksi. Mereka bisa mencari produk ke produsennya sehingga keuntungan terhadap selisih dolar AS juga sangat kecil,” kata Toto.

Ia menyayangkan tim ekonomi Kabinet Jokowi-Jusuf Kalla tidak memperlihatkan kinerja yang baik. Ironisnya, industri dibiarkan menghadapi tekanan berat. Toto mencontohkan produk pertanian dikenai PPN. Hal ini kontraproduktif terhadap peningkatan kinerja industri.

Saat ini kinerja industri terus memburuk. Sinyal PHK mulai terjadi di sejumlah sektor, khususnya industri padat karya. Puluhan pabrik sepatu sudah menyatakan melakukan PHK. Di samping itu, daya beli juga menurun.
“Bagi pengusaha akan berupaya mempertahankan usahanya, tetapi jika tidak jalan satu-satunya adalah tutup,” tuturnya.

Inflasi

Ekonom Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menegaskan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS salah satu penyebabnya. Itu karena data-data ekonomi Indonesia yang dirilis tidak memuaskan, seperti naiknya angka inflasi.
Sepanjang tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional, rupiah akan terus bergolak.

“Dolar AS masih akan terus menguat. Trennya akan terus begitu selama data-data ekonomi AS terus menguat dan tidak ada perbaikan data-data ekonomi Indonesia yang belum memuaskan ini,” ujar Rully.

Selain itu, ia menilai, dolar AS akan terus menguat selama belum ada kepastian rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, kombinasi sentimen negatif yang berasal dari eksternal dan domestik telah mendorong nilai rupiah terdepresiasi cukup dalam. Selain itu, ia menilai, melemahnya rupiah juga disebabkan pelemahan mata uang euro yang disebabkan krisis Yunani.

Karena itu, ia berharap ada kesepakatan dalam penyelesaian utang Yunani agar terhindar dari gagal bayar obligasi yang dampaknya akan buruk bagi perbankan di kawasan Eropa yang memiliki surat utang Yunani. Ini karena, menurutnya, bila tidak terjadi kesepakatan maka efek dominonya bisa ke kawasan Asia, termasuk Indonesia.
“Untuk jangka pendek dan menengah ini cukup berat bagi rupiah untuk bergerak menguat,” ucapnya.

Di tengah gejolak sentimen negatif itu, menurutnya, pelaku pasar uang akan menempatkan asetnya dalam bentuk mata uang dolar AS. Hal tersebut karena dinilai dapat menjaga nilai aset agar tidak tergerus oleh sentimen negatif yang beredar.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada inflasi 0,50 persen pada Mei 2015 dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau sejak awal 2015 ini mencapai 0,42 persen dan secara year on year (yoy) adalah 7,15 persen. Angka inflasi ini merupakan tertinggi sejak 2009 atau enam tahun terakhir. Pada 2008, inflasi dilaporkan mencapai 1,41 persen.

Hingga hari ini, kurs dolar AS terhadap mata uang berbagai negara bervariasi. Tingkat paritas tengah nilai tukar mata uang Tiongkok renminbi atau yuan melemah 17 basis poin menjadi 6,1181 terhadap dolar AS pada Jumat, menurut Sistem Perdagangan Valuta Asing Tiongkok.

Antara melaporkan, pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,1247 dolar AS dari 1,1250 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5370 dolar AS dari 1,5314 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7685 dolar AS dari 0,7770 dolar AS.

Dolar AS dibeli 124,36 yen Jepang lebih tinggi dari 124,35 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9328 franc Swiss dari 0,9357 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,2492 dolar Kanada dari 1,2460 dolar Kanada, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua.

Sumber : Sinar Harapan
http://onlineindo.tv/news/pelemahan-kurs-rupiah-membahayakan/

Pos ini dipublikasikan di mata uang dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s